27 Okt 2008

Boedi Oetomo Kah?


"Sejarah itu ingatan, apa jadinya manusia tanpa ingatan."
(Ahmad Mansyur Suryanegara, Sejarahwan Muslim)

Berdirinya Budi Utomo sampai saat ini dipandang sebagai awal kebangkitan Nasional. Organisasi yang didirikan di Jakarta 20 Mei 100 tahun lalu atas prakarsa mahasiswa kedokteran STOVIA, Sutomo dan kawan-kawan meskipun tidak didukung oleh data yang valid tercatat dalam lembaran sejarah sebagai pelopor kebangkitan nasional. Untuk kepentingan pelurusan sejarahlah tulisan ini saya buat.
Budi Utomo, ‘Nasionalisme’ Lokal
Budi Utomo (BU), merupakan perkumpulan yang dipimpin oleh kaum Ambtenaar , yaitu para pegawai negeri yang setia kepada pemerintah kolonial Belanda. Pertama kali BU diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar yang dipercaya Belanda. Beliau memimpin sejak tahun 1908 sampai tahun 1911. kemudian digantikan oleh Pangeran Arjo Noto Dirojo dari Istana Paku Alam, Yogyakarta. Dengan dipimpin oleh kaum bangsawan yang selalu inggih selalu (karena digaji oleh Belanda), sangatlah wajar jika BU tidak melakukan perlawanan massa, berjuang guna mengubah nasib rakyat yang tertindas dan menderita dibawah telapak kaki penjajah Belanda. BU juga merupakan organisasi yang bersifat aristokratis, yang membuatnya terjauh dari rakyat jelata. Keanggotaannya selalu terbatas bagi kaum ningrat-aristokrat elite cabang atas, dan hanya untuk suku Jawa dan Madura. Inilah sedikit alasan untuk kemudian mengatakan tidak tepat jika awal kebangkitan nasional mengambil hari lahir BU, perkumpulan yang
sangat terbatas dan fanatik kesukuan.
Belum lagi, BU tampak kebelanda-belandaan . Sebagaimana dalam tulisan K.H. Firdaus A.N (1999), Anggaran Dasar Budi Utomo memakai bahasa Belanda kolonial, dan bahasa yang dipergunakan sehari-hari adalah bahasa jawa dan belanda. Ini menurutnya tidak adil jika menilai BU sebagai gerakan nasional teladan, bukan saja bahasa sehari-hari yang lenyap sifat kebangsaannya tapi juga suku bangsa Indonesia lain yang diluar jawa dan Madura‘haram’ menjadi anggota BU. Disamping itu BU yang anggotanya terdiri dari pegawai Belanda, tidak pernah memperjuangkan Indonesia merdeka sepanjang hayatnya, bahkan sampai istilah kemerdekaan dalam platform organisasinya pun sama sekali tidak tercantum. Karena tidak mendapat dukungan dari rakyat, akhirnya sampai tahun 1935 BU lenyap dari arena pergerakan Indonesia.

SDI-SI Sang Pelopor Kebangkitan
Syarekat Dagang Islam yang dilahirkan di Solo tahun 1905 dengan sifat nasional dan dasar Islam yang tangguh tanggal 16 Oktober nanti telah berumur lebih seabad. Awal pergerakannya diarahkan sebagai resistensi yang ditujukan langsung kepada Belanda yang memberikan prioritas utama dan perlindungan kepada pedagang Cina yang agresif dalam perdagangan dan industri. Anggaran Dasar SDI sebagaimana tercatat dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia bertujuan untuk berikhtiar meningkatkan persaudaraan antar anggota, dan tolong menolong dikalangan kaum muslim; berusaha meningkatkan derajat kemakmuran dan kebebasan negeri. Organisasi ini meluas sampai lapisan masyarakat bawah. Beberapa tahun kemudian untuk lebih menonjolkan Islam, maka kata dagang dihilangkan.
Syarekat Islam dengan sifat nasionalnya -membedakannya dengan BU- keanggotaannya meliputi seluruh bangsa Indonesia yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Ini dapat dilihat dari wajah para pemimpin SI. Lihatlah Samanhudi, Cokrominoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur; Agus Salim dan Muis dari Sumatera Barat dan A.M Sangaji dari Maluku. Dan dengan asas Islam, SI bersifat kerakyatan yang membedakannya dengan BU yang bersifat keningratan dan feodal. Dengan begitu SI betul-betul merakyat dan menyentuh hingga kepelosok-pelosok desa. Tahun 1916, tercatat 181 cabang SI di seluruh Indonesia dengan tak kurang dari 700.000 orang tercatat sebagai anggotanya, sampai tahun 1919 melonjak drastis hingga mencapai dua juta orang. Sebuah angka yang fantastis kala itu. Sedang BU dimasa keemasannya saja hanya beranggotan tak lebih dari 10.000 orang.
Pada mulanya Belanda menolak kehadiran SI, tetapi kemudian diakui juga sebagai Badan Hukum atas nasehat Prof. Snouck Hurgronje pada tanggal 10 September 1912, namun oleh SI tanggal 16 Oktober 1905 tetap dipandang sebagai kelahirannya yang sejati, 3 tahun lebih dulu dari BU. Setelah berjuang bersama rakyat dalam suka duka, dipenjarakan ditembak mati oleh serdadu Belanda, dibuang ke Digul akhirnya SI turut ikut serta berhasil mengantarkan bangsa Indonesia mencapai cita-citanya menuju kemerdekaan. Dengan begitu jelaslah bahwa SI mempunyai andil besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Jadi amat ganjil jika kemudian bukan kelahiran SI yang dijadikan patokan hari Kebangkitan Nasional, melainkan BU yang sama sekali tidak memperjuangkan Indonesia merdeka. Apakah ini bukan manipulasi sejarah ?
H. Agus Salim, Tamar Djaja, Ridwan Saidi, Anwar Harjono, Ahmad Mansyur Suryanegara, K.H. Firaus AN dan Adabi Darban pernah berkata bahwa tanggal berdirinya SDI lebih tepat disebut sebagai ‘Hari Kebangkitan Nasional’ dan bukan tahun 1908 dengan patokan berdirinya Budi Utomo. Karena ruang lingkup BU hanyalah pulau Jawa dan bahkan hanya etnis Jawa dan Madura, sedangkan SI mempunyai cabang diseluruh Indonesia. Jadi inilah yang layak disebut nasional bahkan dalam Ensiklopedia Nasional mencatat kongres SI disebut sebagai Kongres Nasional. Pada Kongres Nasional I 1916 dirumuskan sifat politik SI yang disahkan pada Kongres II berikutnya, 1917. Isi pokok organisasi antara lain mengharapkan hancurnya kapitalisme dan memperjuangkan agar rakyat nantinya akan dapat melaksanakan pemerintahan sendiri. Bahkan SI pulalah yang pertama kali memiliki Koran gerakan yang secara mahir mengikat solidaritas sebagai warga jajahan untuk merebut kemerdekaan. Tak kurang, M. Natsir dalam "Indoensisch
Nationalism" mengatakan bahwa pergerakan Islamlah yang pertama meretas jalan dinegeri ini bagi kegiatan politik yang mencita-citakan kemerdekaan, yang telah menebarkan benih kesatuan Indonesia.
Pramoedya Ananta Toer pun turut memberi komentar, menurutnya para aktor pergerakan Syarekat Islam lebih radikal dibandingkan Budi Utomo dalam menantang kekuasaan Belanda. Kalau kita benar-benar menghormati kebenaran sejarah pergerakan bangsa Indonesia yang sungguh-sungguh sesuai dengan data dan fakta yang otentik kita harus berani mengatakan, Indonesia merdeka adalah buah strategi tokoh Islam yang ulama dan intelek. Syarekat Islamlah peretas jalan menuju kebangkitan dan kemerdekaan nasional dan bukan Budi Utomo. Menutup tulisan ini, izinkan saya mengutip perkataan Ahmad Mansyur Suryanegara –penulis buku Menemukan Sejarah-, "Dengan adanya pembelokan sejarah, itu yang membuat kita kehilangan kepribadian (sebagai bangsa –pen)."

0 Komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih Atas komentarnya