<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8405084938656746485</id><updated>2011-04-21T16:44:07.680-07:00</updated><category term='Ekonomi'/><category term='Sosial Budaya'/><category term='Manajemen Diri'/><category term='Politik'/><title type='text'>Pena Syuhada</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://penasyuhada.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Bisnis Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14885449067106672835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8405084938656746485.post-7665339816824162437</id><published>2009-02-20T21:08:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T21:10:29.076-08:00</updated><title type='text'>Menggugat Sekolah Islam</title><content type='html'>MENGGUGAT SEKOLAH ISLAM&lt;br /&gt;Oleh : Denie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan tentang rivalitas kualitas pendidikan dan biaya pendidikan seolah tak kunjung selesai. Kelihatannya begitu paradoks, saat ini jika kita menginginkan pendidikan dengan kualitas yang baik, maka kita sudah bersedia mengeluarkan sejumlah dana, sedangkan ketika kita tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk menunjang pendidikan, maka solusinya adalah menghapus seluruh harapan, dan kemudian kalaupun sekolah, tentunya di ruang pendidikan nyaris tanpa mutu, disebabkan oleh ketidakmampuan guru dalam memberikan pendidikan secara maksimal.&lt;br /&gt; Persoalan ini tentu akan selesai jika dikembalikan kepada pokok masalahnya, yakni tentang kelembagaan atau status dari lembaga pendidikan. Pada dasarnya sekolah atau lembaga pendidikan didirikan atas keinginan social, baik sekolah swasta maupun sekolah yang dikelola oleh pemerintah. Keinginan social ini diartikan bahwa seluruh aktivitas tidak diperuntukkan untuk memperoleh keuntungan semata dan tidak bisa memiliki asset-aset oleh pendiri atau pengelolanya. Pendiriaan sebuah lembaga pendidikan, seharusnya bermula dari adanya itikad untuk mengadakan kegiatan social guna membantu masyarakat yang membutuhkan, bukan malah menjadi momok yang menakutkan bagi kemiskinan sebagian orang yang tidak bisa mengenyam pendidikan secara maksimal. &lt;br /&gt; Eri Sudewo (2004 : 209) berujar tentang lembaga pendidikan “menarik untuk disimak adalah pengelolaan lembaga sekolah yang not for profit. Dalam mendirikan bangunan sekolah dan menyiapkan fasilitas lainnya, pihak sekolah atau yayasan yang mengelolanya meminjam sejumlah uang dari bank atau perseorangan. Untuk melunasi utang tersebut, pihak sekolah mengutip iuran dari tiap orang tua murid dengan nama Uang Pembangunan Sekolah. Status iuran uang pembangunan sekolah dari orang tua murid adalah infak sedekah. Setelah lunas, muncullah sebuah pertanyaan “milik siapakah bangunan sekolah dan fasilitas lainnya di sekolah itu? &lt;br /&gt; Pertanyaan tentang status kepemilikan memerlukan jawaban yang tepat, dengan status uang yang diberikan oleh para orang tua siswa adalah infak sedekah, maka status sesungguhnya adalah bahwa bangunan beserta fasilitas yang dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan adalah dikelola, bukan dimiliki. &lt;br /&gt; Sekolah adalah lembaga not for profit. Jasa pendidikan yang ditawarkan, harus dibayar oleh penerima jasa itu. Dalam hal ini orang tua siswa yang membayar SPP, sebagai pengganti jerih payah guru dan pengelolaan sekolah. Dengan demikian sleuruh biaya operasional, termasuk gaji guru dan seluruh pekerja sekolah ditanggulangi oleh orang tua dan wali murid. &lt;br /&gt;Realitas yang terjadi sesungguhnya menunjukkan bahwa apa yang menjadi kerangka ideal pengelolaan pendidikan demikian rapuh, tergusur oleh ketidakpuasaan, sikap terburu-buru dalam mengambil keputusan. Tingginya SPP yang harus dibayarkan oleh orang tua, rupanya bertolak belakang dengan tingkat kesejahteraan guru, berdiri di antara kepungan idealisme dan pragmatisme.&lt;br /&gt;Tradisi bisnis yang berkembang di lembaga pendidikan, membuat kita semakin miris dengan kondisi yang terjadi. Mahalnya biaya pendidikan membuat kita semakin brutal, tengok saja sekolah-sekolah Islam dengan bayaran yang tinggi. Sekedar menyampaikan cerita dari teman-teman yang kebetulan mengajar di salah satu sekolah dasar Islam, ada yang berprofesi sebagai pemalak, prilaku kekerasan dan lain sebagainya. Kenakalan anak-anak produk pendidikan mahal lebih disebabkan oleh “keegoan” orang tua yang menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah, di mana dengan membayar berarti yang telah membeli sejumlah fasilitas, membeli paket kualitas yang ditawarkan sekolah-sekolah mahal tanpa batas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangkap Peluang Zakat Untuk Pendidikan&lt;br /&gt;Bagaimana peluang zakat untuk pendidikan? Melihat masih dominasinya kemiskinan terhadap kesempatan mengikuti jenjang pendidikan tertentu, setidaknya memberikan peluang terhadap zakat untuk mengambil peran penting dalam membangun lembaga pendidikan murah sekaligus berkualitas. Membangun lembaga pendidikan dengan dana umat, secara sosial memungkinkan terjadinya reorientasi prilaku pendidikan, dari profit kepada non profit. &lt;br /&gt;Dompet Dhuafa melalui Lembaga Pengembangan Insani  telah memberikan contoh kepada kita tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan dikelola, diarahkan kepada peningkatan kualitas, menggunakan dana umat membuatnya semakin bertanggung jawab, semakin transparan dan semakin berkualitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah praktisi zakat di Kalimantan Barat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8405084938656746485-7665339816824162437?l=penasyuhada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penasyuhada.blogspot.com/feeds/7665339816824162437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/2009/02/menggugat-sekolah-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default/7665339816824162437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default/7665339816824162437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/2009/02/menggugat-sekolah-islam.html' title='Menggugat Sekolah Islam'/><author><name>Bisnis Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14885449067106672835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8405084938656746485.post-2523993225228338096</id><published>2009-02-20T21:01:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T21:05:21.323-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Kemiskinan Sebagai Profesi</title><content type='html'>KEMISKINAN SEBAGAI PROFESI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh Denie&lt;br /&gt;Mengurai Kemiskinan&lt;br /&gt;Ketika negara begitu dermawan membagi-bagikan cash money kepada masyarakat miskin, sebagai akibat kelalaian pemerintah terhadap upaya mensejahterakan masyarakat tanpa terkecuali, dengan menaikkan harga BBM. Orang-orang mulai kasak kusuk membentangkan berbagai teori mereka tentang siapa yang berhak menerima dana segar seperti itu. Mulailah dengan teori pendapatan perkapita, ada yang menggunakan angka 1 dolar, ada pula dengan angka Rp. 15.ooo, sebagai penakar fitnah kemiskinan.&lt;br /&gt;Namun usaha pemerintah dengan mendengungkan berbagai kriteria penerima dana segar itu mendapatkan respon beragam pada sisi redaksi yang digunakan, namun sama pada sisi sikap dan mental sebagian masyarakat, tiba-tiba menjadi lebih miskin. Sebab kemiskinan ternyata hanya dipandang pada sisi kepantasan seseorang mengenakan sesuatu, bukan karena mental atau jiwa nya yang miskin. &lt;br /&gt;Pendapat bahwa kemiskinan bukan sekedar ketidakpunyaan akan harta benda, namun juga adalah sikap mental, jiwa dan kondisi serba kurang dalam aspek psikologis, maka ia juga dikenal sebagai orang miskin. Simak saja, para pemuda-pemuda “bergelantungan” di kedua tangan orang tua mereka, ada mereka yang tidak memiliki pekerjaan, namun dapat tercukupi kebutuhan hidupnya, disebabkan oleh warisan pat – pat gulipat orang tuanya, atau peninggalan kerajaan majapahit yang ditemukan di halaman kantor. &lt;br /&gt;Mereka yang bergalutan di tangan orang tuanya, adalah potret kemiskinan semu. Sungguh ini bukan hanya potret buram, melainkan amat berbahaya. Bagi yang masih ditunjang orang tua, mereka termasuk pengangguran semu. Seolah-olah mereka tak punya persoalan dengan kemiskinan. Namun begitu orang tua bermasalah, pensiun atau tiba-tiba meninggalkan dunia fana, kemiskinan segera menampakkan wajah aslinya untuk segera mencabik-cabik. Apakah anda juga yakin bahwa deposito merupakan cara abadi menghasilkan uang? Anda pasti setuju bahwa deposito amat tergantung pada kondisi ekonomi politik. Berapa banyak orang hancur karena nilai kurs rupiah jatuh tahun 1998, atau berapa banyak orang yang berubah standar kewarasannya pada krisis di penghujung tahun 2008. Sementara hanya berapa gelintir orang yang malah untung saat krisis moneter itu. &lt;br /&gt;Mendepositokan di bank membuatnya menjadi semakin pasif, menyimpan harta, emas atau perhiasan membuatnya semakin tidak produktif, hanya sekedar berharap kepada bagi hasil belaka. Akibatnya muncul kemalasan, kesia-siaan. Ajaran Islam dalam Al Qur’an mengemas prilaku ini dalam sebuah sikap yang tegas “..Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih, Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi dan mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu” (Al Quran surah 9 At Taubah –Pengampunan— ayat 34 – 35)&lt;br /&gt;Kemiskinan menjadi profesi&lt;br /&gt;Ketika anda sibuk menyiapkan daftar pekerjaan yang akan diselesaikan di kantor, di lembaga yang anda bangun, demikian pula dengan orang-orang yang melakukan hal yang sama. Mereka kemudian menemui anda di persimpangan jalan, dan hampir belum pulang ke rumah, sewaktu anda pulang meninggalkan kantor pada petang hari. Mereka kelihatannya lebih giat bekerja, mengalahkan etos kerja yang selama ini anda tunjukkan, mereka menjadikan kemiskinan menjadi profesi, pekerjaan atau jasa yang mereka tawarkan kepada mereka. Mereka menjadikan kemiskinan sebagai aset yang bisa dijual kepada anda.&lt;br /&gt;Meminta-minta memang punya dua keunggulan yaitu efisien dan efektif. Bukankah azas efisien dan efektif yang diterapkan, merupakan inti kiat memenangkan persaingan. Mereka yang miskin tentu tak paham, bahwa cara meminta yang mereka lakukan ternyata memenuhi standar manajemen profesional. Efisien karena tidak memerlukan modal apapun. Semakin modalnya kurang, semakin efektif mendapat uang. Maaf, orang yang tak punya kaki dan tangan, cenderung lebih efektif mendapatkan uang ketimbang yang masih punya satu tangan dan satu kaki. Sesungguhnya zakat memang ditujukan untuk kalangan fakir seperti ini. Bagi yang masih lengkap tangan dan kaki, cukup bertepuk tangan dan menyanyi lagu apa saja. Semakin menyedihkan dan menyayat, semakin besar peluang mendapat sedekah. &lt;br /&gt;Namun Orang miskin yang menyapu jalan dan Laskar Mandiri, sesungguhnyalah mereka fuqara walmasakin. Mereka tidak eksploitasi kemiskinan sebagai modal kerja. Mereka cegah dirinya agar tak hina. Dengan bekerja menyapu, mereka tengah megeksplorasi diri. Mereka bina mental untuk tetap berupaya mencari rezeki. Proses how to survive ini akan berpengaruh pada pembinaan mental keluarga. Bila sang bapak yang menyapu jalan tersebut paham tentang harkat sebuah pekerjaan, ia larang keluarganya meminta-minta. Meski sang bapak paham dan telah tenggelam selama bertahun-tahun bahwa pekerjaan menyapu jalan memang tidak pernah bisa jadi landasan keluarga untuk hidup layak. &lt;br /&gt;Rasulullah saw mengingatkan kita : Berangkatlah kamu pagi-pagi, kemudian pulang memikul kayu api di punggungmu Lalu kamu bersedekah dengan itu tanpa meminta-minta kepada orang banyak Itu lebih baik bagimu daripada meminta-minta kepada orang banyak biar diberi ataupun tidak Sesungguhnya tangan yang memberi lebih mulia daripada tangan yang menerima Dan dahulukanlah memberi kepada orang yang menjadi tanggunganmu (Muslim)&lt;br /&gt;Kepala keluarga yang menyapu jalan, telah mempraktekkan pesan Rasulullah saw. Ia nafkahi keluarga dengan bekerja membersihkan jalan. Itu adalah hasil keringatnya, bukan meminta-minta. Sementara orang miskin yang meminta-minta, menjadikan kemiskinan sebagai sumber nafkah. Dari hasil mengemis ini, penghasilan mereka memang berkali lipat ketimbang rekan-rekannya yang menyapu jalan. Di kota-kota besar terutama di Jakarta, penghasilan dari meminta-minta ini bisa mencapai ratusan ribu rupiah per hari. Jika minimal seratus ribu rupiah per hari, maka penghasilan peminta-minta mencapai Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan. Berapa gaji anda? Bukankah ini penghasilan pegawai swasta yang memiliki jabatan setara kepala bagian. Itu semua diperoleh tanpa bersusah payah sekolah, tanpa perlu magang atau melalui jenjang pelatihan dan pengalaman sekian tahun bekerja. Hanya dengan memasang “wajah penghabisan”, mencari rezeki menjadi mudah bagi kalangan peminta-minta.&lt;br /&gt;Kemiskinan gaya baru memang telah berkembang, yang menjadikan kemiskinan sebagai profesi. Definisi kemiskinan tak lagi menjelaskan status sosial, melainkan telah jadi sumber mencari rezeki. Itulah fuqara walmasakin yang telah berubah jadi fuqara masa kini. Jumlah fuqara masa kini makin hari bertambah-tambah. Yang dikoordinir maupun yang terjun tanpa koordinasi meruyak di mana-mana. Seperti di berbagai perempatan jalan, mereka tiba-tiba hadir berkelompok. Yang tidak dikoordinir, mengerahkan anak-anaknya meminta-minta. Sementara para orang tuanya memantau dari tepi jalan atau sudut-sudut tembok yang sulit dilihat pengguna jalan. Sebuah fenomena baru, mengemis jadi profesi. Di kota-kota besar mereka tinggal sekadarnya. Tapi di kampung, siapa sangka di antara mereka, ada yang memiliki rumah, kerbau dan sawah. Padahal “Siapa yang meminta-minta kepada orang banyak untuk menumpuk harta kekayaan, berarti dia meminta bara api Baik yang diterimanya sedikit ataupun banyak (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Juga seperti yang banyak dikatakan orang, pengemis yang dikoordinir, harus mengganti baju serta menggendong bayi sewaan. Dengan mencubitnya, bayi pun menangis. Dengan harapan iba pengguna jalan terpantik untuk segera merogoh kocek. Sering anda langsung memberi. Tapi terkadang anda tak peduli. Anak-anak jalanan pun jumlahnya tidak berkurang-kurang. Anak-anak yang terjun ke jalan karena problem kemiskinan di rumah, seolah mendapat dukungan dengan penyediaan fasilitas seperti rumah singgah. Penanganan ini memacu teman-teman yang lain untuk bersama-sama menjadi anak jalanan. Sedang di jalan-jalan tempat ibadah, sering dikunjungi para pengemis. Setiap hari Jumat, sekitar pukul 10 pagi pengemis sudah berdatangan memenuhi jalan menuju masjid. Demikian juga dengan berbagai klenteng. Di tiap hari libur atau saat perayaan Imlek, pengemis pun banyak mencari rezeki dari belas kasihan pengunjung. Namun yang menarik, mengapa sedikit sekali pengemis berkeliaran di berbagai gereja di hari libur Ahad. Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (Al Quran surah 3 Ali Imran –Keluarga Ali-- ayat 139)&lt;br /&gt; *Penulis adalah praktisi Zakat di Kota Pontianak (0561 7960609)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8405084938656746485-2523993225228338096?l=penasyuhada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penasyuhada.blogspot.com/feeds/2523993225228338096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/2009/02/kemiskinan-sebagai-profesi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default/2523993225228338096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default/2523993225228338096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/2009/02/kemiskinan-sebagai-profesi.html' title='Kemiskinan Sebagai Profesi'/><author><name>Bisnis Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14885449067106672835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8405084938656746485.post-8090288028368823190</id><published>2008-11-01T06:57:00.000-07:00</published><updated>2008-11-01T07:02:21.214-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Perlukah Menyewa Presiden Bayaran?</title><content type='html'>&lt;h2&gt;Bagaimana jika kita kontrak presiden dari negara lain untuk 2009?&lt;/h2&gt;          &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;Kata Edward De Bono berpikir kreatif bukanlah berpikir lurus-linier tapi berpikir menyamping-lateral. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ada juga yang mengatakan, jika Anda ingin menelurkan gagasan kreatif, cobalah berpikir terbalik (&lt;em&gt;think the opposite&lt;/em&gt;) sambil mengatakan ”mengapa tidak?” (&lt;em&gt;Why not?&lt;/em&gt;). Dengan cara berpikir menyamping, terbalik, dan bila perlu berpikir ”menggurita” seperti yang kini dipopulerkan Tony Buzan dengan &lt;em&gt;”mindmapping” &lt;/em&gt;. Buatlah peta pikiran Anda yang liar seperti bola bergulir ditendang ke kiri, kanan, menyilang, mendatar, melambung, dan akhirnya gol. Tercapailah tujuan. Efektif dan efisien. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;Berpikir sampai kepala pening tentang ujung-ujungnya kampanye pemilu 9 bulan ini, kita jadi bingung. Mau pilih calon presiden &lt;em&gt;recycled &lt;/em&gt;ya jangan-jangan nanti kita salah pilih. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;Mau pilih calon presiden tebar pesona, eh nanti salah lagi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;Mau pilih orang muda, ya susah juga karena biar muda tapi pikirannya tua, atau malah lebih tua dari presiden &lt;em&gt;recycled&lt;/em&gt; dan presiden tebar pesona.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;Anehnya, kita (baca elit politik) kok terseret berpikir seolah-olah pemilu presiden akan mengakibatkan perang baratayudha, hidup atau mati, &lt;em&gt;to be or not to be&lt;/em&gt;. Bayangkan kalau sekarang saya tetapkan koruptor bisa dihukum tembak, jangan-jangan selepas berkuasa malah saya yang ditembak. Senjata makan tuan dah! Mau saya galakkan KPK agar benar-benar galak, jangan sampai sehabis masa jabatan malah saya yang diburu dan ditangkap KPK. Alur dan arah serta arus berpikir masyarakat ini sudah pastilah membuat 9 bulan ini kita sebagai bangsa tidak produktif. Bagaimana bisa produktif kalau waktu selama itu kita boros energi, uang, harta-benda, dan waktu tidur hanya untuk saling menjelek-jelekkan, memfitnah, bersumpah serapah dengan kemasan membangun &lt;em&gt;image&lt;/em&gt;, mengorkestra citra?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;Bertolak dari hiruk pikuk opini publik dan opini kepala pening, saya mencoba berpikir menyamping-menyimpang, terbolak-balik, dan menggurita ke berbagai arah. Daripada pusing, bagaimana kalau kita &lt;em&gt;hire &lt;/em&gt;alias menyewa, tapi lebih kerennya mengontrak dengan bayaran amat tinggi calon dari negeri lain menjadi presiden satu periode saja, mulai dari 2009 sampai 2014. Sesudah itu baru kita pilih lagi presiden anak bangsa. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(Terima kasih kepada Ibu Noor Indrastuti yang melemparkan ide dan Pak Wahyudi yang mengusulkan seorang tokoh yang diburu Amerika, dan Pak Lambas yang kritis menggugat gagasan dalam diskusi makan malam kita).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;Ini cara berpikir membenahi sebuah perusahaan yang bakal bangkrut. Daripada bangkrut CEO-nya kita kontrak saja untuk satu periode dari perusahaan lain dari luar negeri yang menjanjikan perubahan yang lebih pasti berhasil. Atau seperti klub-klub sepak bola nasional dalam Euro Cup yang lalu. Pelatih kesebelasan nasional Belanda Marco van Basten bersaing dengan pelatih kesebelasan nasional Rusia asal Belanda Gus Hiddink. Rusia menang. Nasionalisme Gus Hiddink kan tak dipersoalkan rakyat Belanda. Yang jadi dasar penilaian adalah profesionalisme. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;Bagaimana kalau kita kontrak saja Barrack Obama menjadi presiden Indonesia? Obama kan pernah jadi ”orang Indonesia” yang tulus dan polos waktu menjadi siswa SD di Jakarta.Tapi, relakah rakyat Amerika? Masa’ rakyat Amerika mau melepaskan ”presiden”-nya yang menjanjikan masa depan Amerika yang cerah! Tapi kalau Obama setuju, mengapa tidak?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;dl class="wp-caption aligncenter"&gt;&lt;dt class="wp-caption-dt"&gt;&lt;a href="http://sbelen.files.wordpress.com/2008/07/scottthongfileswordpresscomobamaphone.jpg"&gt;&lt;img class="size-medium wp-image-228" src="http://sbelen.files.wordpress.com/2008/07/scottthongfileswordpresscomobamaphone.jpg?w=300&amp;amp;h=278" alt="Barrack Obama (www.scottthongfiles.wordpress.com" width="300" height="278" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/dt&gt;&lt;/dl&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Barrack Obama (www.scottthongfiles.wordpress.com)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;Atau, bagaimana kalau kita kontrak saja Lee Kuan Yew? Beliau kan terbukti membawa Singapura menjadi negara maju. Apalagi beliau kan sudah berpengalaman menjadi penasihat presiden kita. Tapi, beliau kan sudah tua? Tapi pikirannya kan masih muda! Dan, jika beliau mau, mengapa tidak?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;dl class="wp-caption alignright"&gt;&lt;dt class="wp-caption-dt"&gt;&lt;a href="http://sbelen.files.wordpress.com/2008/07/uploadwikimediaorglee_kuan_yew.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/dt&gt;&lt;/dl&gt; &lt;div class="mceTemp" style="text-align: left;"&gt; &lt;dl class="wp-caption alignright"&gt;&lt;dt class="wp-caption-dt"&gt;&lt;a href="http://sbelen.files.wordpress.com/2008/07/uploadwikimediaorglee_kuan_yew.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dd class="wp-caption-dd"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt; &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;dl class="wp-caption alignright"&gt;&lt;dt class="wp-caption-dt"&gt;&lt;a href="http://sbelen.files.wordpress.com/2008/07/uploadwikimediaorglee_kuan_yew.jpg"&gt;&lt;img class="size-medium wp-image-231" src="http://sbelen.files.wordpress.com/2008/07/uploadwikimediaorglee_kuan_yew.jpg?w=167&amp;amp;h=184" alt="www.uploadwikimedia.org)" width="167" height="184" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/dt&gt;&lt;/dl&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt; Lee Kuan Yew (Sumber: www.uplodadwikimedia.org)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;Eh, yang lebih dekat kan Anwar Ibrahim. Beliau kan sama melayu dengan kita, hanya kebetulan lahirnya di negeri jiran. Tapi, apakah Anwar Ibrahim mau? Kan namanya politik, satu langkah lagi beliau bisa menjadi Perdana Menteri Malaysia. Tapi, kalau Pak Anwar mau, mengapa tidak?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://sbelen.files.wordpress.com/2008/07/aldittablogspotcomanwar-ibrahim.jpg"&gt;&lt;img class="size-medium wp-image-229" src="http://sbelen.files.wordpress.com/2008/07/aldittablogspotcomanwar-ibrahim.jpg?w=205&amp;amp;h=153" alt="Anwar Ibrahim (www.aldittablogspot.com)" width="205" height="153" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Anwar Ibrahim (www.aldittablogspot.com)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;Namun, andaikan setelah tawaran kita ajukan kepada ketiga calon dan ternyata ketiganya sama-sama setuju, kita buat kampanye pemilu presiden tersingkat di dunia. Hanya satu minggu! Kampanyenya amat sederhana dengan biaya amat murah. Kampanye melalui debat di televisi. Itu saja.Tak perlu ada KPU. Lalu, pemilu diselenggarakan dengan mengirim SMS, email,dan surat. Penghitungannya benar-benar Quick Count! Langsung kita punya presiden yang menjanjikan masa depan cerah sekaligus mencatat sejarah memilih presiden dari negara lain secara demokratis tulen-murni. Dan, tercatatlah nama Indonesia dalam Guiness Book of Records! &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;Ah, mungkin ada yang bilang saya berkhayal. Republik mimpi. Tidak mungkin. Tidak bisa. Jawaban saya adalah banyak penemuan spektakuler, lebih banyak terobosan, dan amat banyak keberhasilan di dunia ini dimulai dari pertanyaan &lt;em&gt;why not&lt;/em&gt;, mengapa tidak? Kalau Anda setuju dengan gagasan ini, apakah Anda punya calon yang lebih baik dari tiga calon yang kami usulkan? &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8405084938656746485-8090288028368823190?l=penasyuhada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penasyuhada.blogspot.com/feeds/8090288028368823190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/2008/11/perlukah-menyewa-presiden-bayaran.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default/8090288028368823190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default/8090288028368823190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/2008/11/perlukah-menyewa-presiden-bayaran.html' title='Perlukah Menyewa Presiden Bayaran?'/><author><name>Bisnis Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14885449067106672835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8405084938656746485.post-6918335222535907252</id><published>2008-11-01T06:37:00.000-07:00</published><updated>2008-11-01T06:55:46.652-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Diri'/><title type='text'>Bagaimana Dengan Anda?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nTBdhooX1Ig/SQxfh60z0HI/AAAAAAAAADE/E78JyfakimY/s1600-h/DSCF6496.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nTBdhooX1Ig/SQxfh60z0HI/AAAAAAAAADE/E78JyfakimY/s200/DSCF6496.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263687100820344946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;strong&gt;Enam Topi Berpikir Edward De Bono &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Topi yang berbeda menyediakan peran berpikir yang berbeda pula. Orang dapat berbangga dengan menggunakan ‘Topi Berpikir’ yang berbeda. Tanpa formalitas dari suatu topi, beberapa pemikir akan terjebak dalam satu cara berpikir secara permanen.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;PUTIH:  Netral; fakta murni, jumlah dan informasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;BIRU: Transparan seperti air, jernih,  tenang dan terkontrol; konduktor orkestra; manager proses; berpikir tentang  berpikir&lt;/li&gt;&lt;li&gt;MERAH :  emosi dan perasaan, naluri dan intuisi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HITAM:  Pengacara; penilaian negatif, mengapa hal tersebut tidak akan berjalan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KUNING  : Sinar matahari; cerah dan optimis, positif, konstruktif, kesempatan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;IJAU  : Subur; menumbuhkan bibit dari benih baru; kreatifitas yang melimpah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;strong&gt;PROSES&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Pemikiran TOPI BIRU  menetapkan focus pertemuan, mengidentifikasi sasaran, menetapkan proses yang akan digunakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemikiran Topi PUTIH  menyediakan fakta yang obyektif dan netral.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemikiran Topi HIJAU digunakan untuk pemikiran kreatif,. Mencari ide baru atau alternative baru. Melampaui yang terlihat – berpikir lateral, menumbuhkan konsep dan persepsi baru.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemikiran Topi KUNING berpusat pada penilaian positif. Mencari alas an mengapa sesuatu dapat berjalan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemikiran Topi HITAM berpusat pada penilaian negative. Tidak meliputi perasaan negatif, karena hal itu merupakan bagian dari pemikiran topi merah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;PEMIKIRAN TOPI MERAH memungkinakan pemikir untuk mengekspresikan perasaannya, seperti takut, tidak suka, dan lebih mendasar lagi seperti kecurigaan, dugaan dan intuisi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8405084938656746485-6918335222535907252?l=penasyuhada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penasyuhada.blogspot.com/feeds/6918335222535907252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/2008/11/bagaimana-dengan-anda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default/6918335222535907252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default/6918335222535907252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/2008/11/bagaimana-dengan-anda.html' title='Bagaimana Dengan Anda?'/><author><name>Bisnis Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14885449067106672835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nTBdhooX1Ig/SQxfh60z0HI/AAAAAAAAADE/E78JyfakimY/s72-c/DSCF6496.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8405084938656746485.post-8322596028355180384</id><published>2008-10-27T02:23:00.000-07:00</published><updated>2008-10-27T02:39:43.018-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Boedi Oetomo Kah?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nTBdhooX1Ig/SQWKy6J5LEI/AAAAAAAAAC0/SJ3KEKKmOOc/s1600-h/DSCF6511.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nTBdhooX1Ig/SQWKy6J5LEI/AAAAAAAAAC0/SJ3KEKKmOOc/s200/DSCF6511.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261764346861136962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; "Sejarah itu ingatan, apa jadinya manusia tanpa ingatan."&lt;br /&gt;(Ahmad Mansyur Suryanegara, Sejarahwan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdirinya Budi Utomo sampai saat ini dipandang sebagai awal kebangkitan Nasional. Organisasi yang didirikan di &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_0"&gt;Jakarta&lt;/span&gt; 20 Mei 100 tahun lalu atas prakarsa mahasiswa kedokteran STOVIA, Sutomo dan kawan-kawan meskipun tidak didukung oleh data yang valid tercatat dalam lembaran sejarah sebagai pelopor kebangkitan nasional. Untuk kepentingan pelurusan sejarahlah tulisan ini saya buat.&lt;br /&gt;Budi Utomo, ‘Nasionalisme’ Lokal&lt;br /&gt;Budi Utomo (BU), merupakan perkumpulan yang dipimpin oleh kaum Ambtenaar , yaitu para pegawai negeri yang setia kepada pemerintah kolonial Belanda. Pertama kali BU diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar yang dipercaya Belanda. Beliau memimpin sejak tahun 1908 sampai tahun 1911. kemudian digantikan oleh Pangeran Arjo Noto Dirojo dari Istana Paku Alam, &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_1"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;. Dengan dipimpin oleh kaum bangsawan yang selalu inggih selalu (karena digaji oleh Belanda), sangatlah wajar jika BU tidak melakukan perlawanan massa, berjuang guna mengubah nasib rakyat yang tertindas dan menderita dibawah telapak kaki penjajah Belanda. BU juga merupakan organisasi yang bersifat aristokratis, yang membuatnya terjauh dari rakyat jelata. Keanggotaannya selalu terbatas bagi kaum ningrat-aristokrat elite cabang atas, dan hanya untuk suku Jawa dan Madura. Inilah sedikit alasan untuk kemudian mengatakan tidak tepat jika awal kebangkitan nasional mengambil hari lahir BU, perkumpulan yang&lt;br /&gt;sangat terbatas dan fanatik kesukuan.&lt;br /&gt;Belum lagi, BU tampak kebelanda-belandaan . Sebagaimana dalam tulisan K.H. Firdaus A.N (1999), Anggaran Dasar Budi Utomo memakai bahasa Belanda kolonial, dan bahasa yang dipergunakan sehari-hari adalah bahasa jawa dan belanda. Ini menurutnya tidak adil jika menilai BU sebagai gerakan nasional teladan, bukan saja bahasa sehari-hari yang lenyap sifat kebangsaannya tapi juga suku bangsa Indonesia lain yang diluar jawa dan Madura‘haram’ menjadi anggota BU. Disamping itu BU yang anggotanya terdiri dari pegawai Belanda, tidak pernah memperjuangkan &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_2"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; merdeka sepanjang hayatnya, bahkan sampai istilah kemerdekaan dalam platform organisasinya pun sama sekali tidak tercantum. Karena tidak mendapat dukungan dari rakyat, akhirnya sampai tahun 1935 BU lenyap dari arena pergerakan &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_3"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SDI-SI Sang Pelopor Kebangkitan&lt;br /&gt;Syarekat Dagang Islam yang dilahirkan di Solo tahun 1905 dengan sifat nasional dan dasar Islam yang tangguh tanggal 16 Oktober nanti telah berumur lebih seabad. Awal pergerakannya diarahkan sebagai resistensi yang ditujukan langsung kepada Belanda yang memberikan prioritas utama dan perlindungan kepada pedagang Cina yang agresif dalam perdagangan dan industri. Anggaran Dasar SDI sebagaimana tercatat dalam Ensiklopedia Nasional &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_4"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; bertujuan untuk berikhtiar meningkatkan persaudaraan antar anggota, dan tolong menolong dikalangan kaum muslim; berusaha meningkatkan derajat kemakmuran dan kebebasan negeri. Organisasi ini meluas sampai lapisan masyarakat bawah. Beberapa tahun kemudian untuk lebih menonjolkan Islam, maka kata dagang dihilangkan.&lt;br /&gt;Syarekat Islam dengan sifat nasionalnya -membedakannya dengan BU- keanggotaannya meliputi seluruh bangsa &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_5"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; yang tersebar di seluruh kepulauan &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_6"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;. Ini dapat dilihat dari wajah para pemimpin SI. Lihatlah Samanhudi, Cokrominoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur; Agus Salim dan Muis dari Sumatera Barat dan A.M Sangaji dari Maluku. Dan dengan asas Islam, SI bersifat kerakyatan yang membedakannya dengan BU yang bersifat keningratan dan feodal. Dengan begitu SI betul-betul merakyat dan menyentuh hingga kepelosok-pelosok desa. Tahun 1916, tercatat 181 cabang SI di seluruh &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_7"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; dengan tak kurang dari 700.000 orang tercatat sebagai anggotanya, sampai tahun 1919 melonjak drastis hingga mencapai dua juta orang. Sebuah angka yang fantastis kala itu. Sedang BU dimasa keemasannya saja hanya beranggotan tak lebih dari 10.000 orang.&lt;br /&gt;Pada mulanya Belanda menolak kehadiran SI, tetapi kemudian diakui juga sebagai Badan Hukum atas nasehat Prof. Snouck Hurgronje pada tanggal 10 September 1912, namun oleh SI tanggal 16 Oktober 1905 tetap dipandang sebagai kelahirannya yang sejati, 3 tahun lebih dulu dari BU. Setelah berjuang bersama rakyat dalam suka duka, dipenjarakan ditembak mati oleh serdadu Belanda, dibuang ke Digul akhirnya SI turut ikut serta berhasil mengantarkan bangsa &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_8"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; mencapai cita-citanya menuju kemerdekaan. Dengan begitu jelaslah bahwa SI mempunyai andil besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Jadi amat ganjil jika kemudian bukan kelahiran SI yang dijadikan patokan hari Kebangkitan Nasional, melainkan BU yang sama sekali tidak memperjuangkan &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_9"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; merdeka. Apakah ini bukan manipulasi sejarah ?&lt;br /&gt;H. Agus Salim, Tamar Djaja, Ridwan Saidi, Anwar Harjono, Ahmad Mansyur Suryanegara, K.H. Firaus AN dan Adabi Darban pernah berkata bahwa tanggal berdirinya SDI lebih tepat disebut sebagai ‘Hari Kebangkitan Nasional’ dan bukan tahun 1908 dengan patokan berdirinya Budi Utomo. Karena ruang lingkup BU hanyalah pulau Jawa dan bahkan hanya etnis Jawa dan Madura, sedangkan SI mempunyai cabang diseluruh &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_10"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;. Jadi inilah yang layak disebut nasional bahkan dalam Ensiklopedia Nasional mencatat kongres SI disebut sebagai Kongres Nasional. Pada Kongres Nasional I 1916 dirumuskan sifat politik SI yang disahkan pada Kongres II berikutnya, 1917. Isi pokok organisasi antara lain mengharapkan hancurnya kapitalisme dan memperjuangkan agar rakyat nantinya akan dapat melaksanakan pemerintahan sendiri. Bahkan SI pulalah yang pertama kali memiliki &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_11"&gt;Koran&lt;/span&gt; gerakan yang secara mahir mengikat solidaritas sebagai warga jajahan untuk merebut kemerdekaan. Tak kurang, M. Natsir dalam "Indoensisch&lt;br /&gt;Nationalism" mengatakan bahwa pergerakan Islamlah yang pertama meretas jalan dinegeri ini bagi kegiatan politik yang mencita-citakan kemerdekaan, yang telah menebarkan benih kesatuan &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_12"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Pramoedya Ananta Toer pun turut memberi komentar, menurutnya para aktor pergerakan Syarekat Islam lebih radikal dibandingkan Budi Utomo dalam menantang kekuasaan Belanda. Kalau kita benar-benar menghormati kebenaran sejarah pergerakan bangsa &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_13"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; yang sungguh-sungguh sesuai dengan data dan fakta yang otentik kita harus berani mengatakan, &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211195220_14"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; merdeka adalah buah strategi tokoh Islam yang ulama dan intelek. Syarekat Islamlah peretas jalan menuju kebangkitan dan kemerdekaan nasional dan bukan Budi Utomo. Menutup tulisan ini, izinkan saya mengutip perkataan Ahmad Mansyur Suryanegara –penulis buku Menemukan Sejarah-, "Dengan adanya pembelokan sejarah, itu yang membuat kita kehilangan kepribadian (sebagai bangsa –pen)."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8405084938656746485-8322596028355180384?l=penasyuhada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penasyuhada.blogspot.com/feeds/8322596028355180384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/2008/10/boedi-oetomo-kah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default/8322596028355180384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default/8322596028355180384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/2008/10/boedi-oetomo-kah.html' title='Boedi Oetomo Kah?'/><author><name>Bisnis Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14885449067106672835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nTBdhooX1Ig/SQWKy6J5LEI/AAAAAAAAAC0/SJ3KEKKmOOc/s72-c/DSCF6511.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8405084938656746485.post-4025744614896250789</id><published>2008-10-20T07:44:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T07:47:48.447-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Pemimpin atau Pemimpi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pemimpin galibnya bukan pemimpi. Makna kata pemimpin dan pemimpi antara langit dan bumi. Pemimpin menjejak bumi, pemimpi gentayangan di langit. Pemimpin pasti punya mimpi. Sedang yang dijuluki pemimpi, kaya akan mimpi. Tapi dari sekian mimpi pemimpi, belum tentu mimpinya hendak jadi pemimpin. Jumlah pemimpin yang pemimpi tak terhitung. Tapi pasti lebih banyak jumlah pemimpi yang bukan pemimpin. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pemimpin harus beresi masalah. Sementara pemimpi hanya mimpi selesaikan. Resiko pemimpin bisa dipenjara atau malah terbunuh. Resiko pemimpi, cuma buyar mimpinya. Maka hanya karena berbeda pendapat, masa depan pemimpin bisa berakhir di tabir pekat penjara. Sedang pemimpi cukup bilang: “Untung saya cuma mimpi. Jika betulan, saya pun meringkuk di situ”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Itulah pemimpin. Dekat dan bahkan penuh resiko. Apapun kebijakannya pasti punya resiko. Mustahil pemimpin bisa diterima semua pihak, dicintai semua orang dan terhindar dari cela. Pemimpin yang yakin kebijakannya bisa rengkuh semua orang, dia bukan pemimpin. Pemimpin harus sadar, ada pihak yang tak sependapat. Di sinilah pemimpin diuji. Dia bisa jadi&lt;i&gt; the real leader&lt;/i&gt;, jika mampu ramu yang tak sependapat jadi kekuatan. Berbeda pendapat bukankah rahmat. Namun berapa banyak pemimpin yang justru membungkam yang tak sependapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belasan tahun Nelson Mandela di penjara. Saat ditanya apakah ia ingin balas dendam pada rezim Apartheid, jawabnya menggetarkan: “Jika tak ada kata maaf, tak ada masa depan bagi Afrika Selatan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi boleh. Tapi pemimpin yang pemimpi berbahaya. Bangsa bisa jadi korban, terjerumus dalam mimpi-mimpinya. Pemimpi yang mimpi jadi pemimpin, sama sekali tak berbahaya. Perlu dikasihani malah. Maka pemimpin harus punya mimpi. Mimpi itu harus dikawal dan dipupuk. Agar bisa terwujud, mimpinya memang musti berangkat dari bumi. Pohon tak ada yang jatuh dari langit. Muncul dari biji, jadi kecambah dan akhirnya menjulang ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ada yang bilang, pemimpin cukup punya prinsip hidup hanya hari ini. Dengan cuma hidup hari ini, dia akan sibuk. Tiap detik dia pasti benahi keadaan, kembangkan potensi dan berbuat kebaikan. Negara dibenah, yang pembenahan hari ini jadi landasan bagi pembenahan berikut. Karena hanya hidup di hari ini, tak ada lagi waktu berkhayal. Yang ada bersihkan diri dari korupsi, rapihkan kabinet dan bantu rakyat agar tak susah. Yang gemar gusur tanah rakyat, segera diadili. Karena tidak ada lagi hari esok. Pemimpin yang yakin hidup di hari ini saja, pasti benahi ahlaknya dan luruskan kesalahan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang pemimpi, cenderung abaikan hari ini. Dia konsen pada hari esok dan masa depan. Pemimpin yang pemimpi bermain dengan khayal. Menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Pemimpi yakin betul, hari esok akan tiba. Padahal memburu sesuatu di esok hari tak ada jaminan. Esok memang belum dicipta, belum berwujud dan belum bisa dirasa. Maka mengapa sibukkan diri dengan persoalan esok, cemas akan dugaan kesialan esok, takut akan bencana. Senang atau sedih di esok hari, jelas tak satu mahluk pun bisa jamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang pemimpi, selalu menunda soal. Hari esok adalah akumulasi soal hari sebelumnya. Terus bertumpuk. Akhirnya di ujung esok, alih-alih selesai persoalan malah meletup. Pemimpin yang pemimpi, juga tunda berbuat kebaikan. Untuk bantu yang susah, ditunda karena masih ada hari esok. Untuk jenguk yang sakit, tunjukan jalan bagi yang sesat, memberi makan yang lapar serta bantu yang miskin, tak usah hari ini karena masih ada esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin sejati akan biarkan hari esok datang. Tak usah tanya kabar esok dan tak usah khawatir bencana esok. Karena hari ini pemimpin sudah sibuk berbuat kebajikan. Mungkin pemimpin seperti ini akan dikasihani orang. Seolah tak punya perencanaan ke depan. Padahal yang harus dikasihani, banyak orang berandai-andai tentang esok yang belum tentu matahari akan terbit. Pemimpi terjebak di angan-angan tanpa berbuat di hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin mustinya selalu menjejak tanah. Jika jatuh masih di tanah juga. Menjejak tanah artinya dekat dan tahu persoalan rakyat. Maka pemimpin sejati tak resah kebaikannya dicampakkan orang. Karena itulah realitas kehidupan. Juga tak goyah meski kebaikan itu dibayar dengan permusuhan. Pemimpin tak terkejut pena yang diberikan, ternyata digunakan untuk menghujat dirinya. Pemimpin juga tak kaget, tongkat yang dihadiahkan dipakai untuk menghadang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebajikan itu sebajik namanya. Keramahan seramah wujudnya. Dan kebaikan itu sebaik rasanya. Pemimpin sejati tak akan menghitung-hitung itu semua. Khalifah fil’ardh, begitu Al Quran menyebut. Tiap orang punya potensi kepemimpinan. Tinggal bagaimana mengeksplorasinya. Maka jika tiap orang bakal ditanya tentang apa yang dipimpinnya, mengapa masih banyak orang yang berebut jabatan dan kedudukan. Hidup jelas bukan sebatas hari ini. Bukan juga cuma untuk esok di dunia. Tapi ada kehidupan setelah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka di jelang 2009, berbondong-bondong pemimpi bersiap-siap hendak jadi pemimpin &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sementara pemimpin yang sungguh-sungguh the real leader, pasti gentar hadapi persoalan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Pemimpi bersumpah dengan sejumlah janji. Pemimpin sejati bicara pun berhati-hati. Lebih-lebih mengumbar janji. Pemimpin memang menjejak tanah. Pemimpi ada di atas langit. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8405084938656746485-4025744614896250789?l=penasyuhada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penasyuhada.blogspot.com/feeds/4025744614896250789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/2008/10/pemimpin-atau-pemimpi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default/4025744614896250789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8405084938656746485/posts/default/4025744614896250789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penasyuhada.blogspot.com/2008/10/pemimpin-atau-pemimpi.html' title='Pemimpin atau Pemimpi'/><author><name>Bisnis Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14885449067106672835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
